Cara Efektif Melaksanakan Role Play, Kelebihan Dan Kekurangan Role Play, Mendapatkan Umpan Balik dan Mendapat Testing Obyektif Pada Disaster Recovery Plan
Hallo, berikut akan saya sampaikan cara efektif dalam melaksanakan role play , menempatkan role play dalam sebuah implementasi Disaster Recovery Plan(DRP), keunggulan role play, mendapat umpan balik mengenai DRP serta yang terakhir Mendapat testing obyektif berdasarkan hasil pelatihan yang di dapat.
1. Melaksanaka Role Play
adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.
Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid (Departemen Pendidikan Nasional, 2002). Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Model pembelajaran Role Playing juga dikenal dengan nama model pembelajaran Bermain Peran. Pengorganisasian kelas secara berkelompok, masing-masing kelompok memperagakan/menampilkan scenario yang telah disiapkan guru. Siswa diberi kebebasan berimprofisasi namun masih dalam batas-batas scenario dari guru.
2. Langkah-Langkah Model Role PlayingLangkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut : Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar.Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang.Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan.Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas/memberi penilaian atas penampilan masing-masing kelompok.Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.Guru memberikan kesimpulan secara umum.
3. Keunggulan Dan Kelemahan Metode Role Play
Keunggulan Model Role Playing Ada beberapa keunggulan dengan menggunakan metode role playing, di antaranya adalahDapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan pengalaman yang menyenangkan yang sulit untuk dilupakan. Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan. Siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan di bahas dalam proses belajar.
Kelemahan Metode Role PlayingDisamping memiliki keunggulan, metode role playing juga mempunyai kelemahan, di antaranya adalah Bermain peran memakan waktu yang banyak. Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal dengan baik apa yang akan diperankannya. Bermain peran tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung. Jika siswa tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan secara sungguh-sungguh. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.
4. Mendapat Umpan Balik DRPPenerapan Manajemen Risiko yang efektif harus didukung dengan
kerangka yang mencakup kebijakan dan prosedur Manajemen Risiko serta
limit Risiko yang ditetapkan secara jelas sejalan dengan visi, misi, dan
strategi bisnis Perusahaan. Penyusunan kebijakan dan prosedur
Manajemen Risiko tersebut dilakukan dengan memperhatikan antara lain
jenis, kompleksitas kegiatan usaha, profil Risiko, dan tingkat Risiko yang
akan diambil serta peraturan yang ditetapkan otoritas dan/atau praktik
Perusahaan yang sehat.
Dalam kerangka Manajemen Risiko, Perusahaan juga harus memasukkan
umpan balik (feedback loop) berdasarkan informasi yang tepat dan
berkualitas, proses manajemen dan penilaian obyektif, yang
memungkinkan pengambilan tindakan yang diperlukan pada waktu yang
tepat untuk merespon perubahan profil Risiko. Hal ini diperlukan untuk
memastikan bahwa keputusan yang dibuat oleh Direksi dan Dewan
Komisaris diimplementasikan dan dampak keputusan tersebut dipantau
dan dilaporkan secara tepat waktu dan cukup sering melalui informasi
manajemen yang baik. Umpan balik (feedback loop) dibutuhkan dalam
menjaga kerangka Manajemen Risiko Perusahaan tetap relevan dengan
kondisi yang terus berubah dengan tujuan membantu Perusahaan dalam
memenuhi tujuan strategi dan pengelolaan risiko. Selain itu, penerapan
kebijakan dan prosedur Manajemen Risiko yang dimiliki Perusahaan harus
didukung oleh kecukupan permodalan dan kualitas SDM.
Dalam rangka pengendalian Risiko secara efektif, kebijakan dan prosedur
yang dimiliki Perusahaan harus didasarkan pada strategi Manajemen
Risiko dan dilengkapi dengan toleransi Risiko dan limit Risiko. Penetapan
toleransi Risiko dan limit Risiko dilakukan dengan memperhatikan tingkat
Risiko yang akan diambil (risk appetite), toleransi Risiko (risk tolerance),
dan strategi Perusahaan secara keseluruhan.
Dalam hal Perusahaan merupakan bagian dari suatu konglomerasi
keuangan, kebijakan, prosedur, dan penetapan limit risiko mencakup pula
Risiko akibat keterkaitan antar anggota konglomerasi keuangan tersebut.
5. Kecukupan Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit
Dalam melaksanakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit untuk
Risiko Strategi, selain melaksanakan kebijakan, prosedur, dan
penetapan limit sebagaimana dimaksud dalam butir I.B, Perusahaan
perlu menambahkan penerapan beberapa hal dalam tiap aspek
kebijakan, prosedur, dan penetapan limit, sebagai berikut:
1) Strategi Manajemen Risiko
a) Dalam penyusunan strategi, Perusahaan mengevaluasi posisi
kompetitif Perusahaan di industri. Dalam hal ini Perusahaan
perlu untuk:
(1) memahami kondisi lingkungan bisnis, ekonomi, dan industri
perasuransian dimana Perusahaan beroperasi, termasuk
bagaimana dampak perubahan lingkungan terhadap bisnis,
produk, teknologi, dan jaringan kantor;
(2) mengukur kekuatan dan kelemahan Perusahaan terkait
posisi daya saing, posisi bisnis Perusahaan di industri
perasuransian, kinerja keuangan, struktur organisasi dan
Manajemen Risiko, infrastruktur untuk kebutuhan bisnis
saat ini dan masa mendatang, kemampuan manajerial, serta
ketersediaan dan keterbatasan sumber daya Perusahaan; dan
(3) menganalisis seluruh alternatif strategi yang tersedia agar
dapat sejalan dengan skala Perusahaan dan kompleksitas
kegiatan usaha Perusahaan.
- 24 -
b) Perusahaan harus menetapkan rencana strategi dan dampak dari
strategi tersebut terhadap bisnis Perusahaan dan melaksanakan
kebijakan tersebut.
c) Rencana strategi dan implementasi strategi dievaluasi secara
berkala untuk mengetahui efektivitas dari strategi tersebut.
d)Dalam hal Perusahaan berencana menerapkan strategi yang
bersifat jangka panjang dan berkelanjutan, Perusahaan memiliki
kecukupan rencana suksesi manajerial untuk mendukung
efektivitas implementasi strategi secara berkelanjutan.
e) Perusahaan memiliki kecukupan modal dalam menunjang
rencana strategi.
f) Strategi Manajemen Risiko Perusahaan paling sedikit mencakup
penetapan 4P (product, price, position, and promotion atau
produk/jasa, harga, posisi, dan promosi).
2) Tingkat Risiko yang akan Diambil (Risk Appetite) dan Toleransi
Risiko (Risk Tolerance)
Penetapan tingkat Risiko yang akan diambil dan toleransi Risiko
untuk Risiko Strategi mengacu pada cakupan penerapan secara
umum sebagaimana dimaksud dalam butir I.B.2.
3) Kebijakan dan Prosedur
a) Perusahaan harus memiliki rencana kerja perencanaan,
penetapan, dan pelaksanaan strategi yang memadai.
b)Perusahaan harus memiliki kecukupan prosedur untuk dapat
mengidentifikasi dan merespon perubahan lingkungan bisnis.
c) Perusahaan harus memiliki prosedur untuk mengukur kemajuan
yang dicapai dari realisasi rencana bisnis dan kinerja sesuai
jadwal yang ditetapkan.
4) Limit
Limit Risiko Strategi secara umum antara lain terkait dengan
batasan penyimpangan dari rencana strategis yang telah
ditetapkan, seperti limit penyimpangan anggaran dan limit
penyimpangan target waktu penyelesaian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar